cara membuat link pada gambar

Kamis, 14 September 2023

Hukum nun mati (sukun) dan tanwin

 Hukum nun mati (sukun) dan tanwin




Hukum nun mati (sukun) dan tanwin adalah salah satu tajwid yang terdapat dalam Al-Qur'an. Hukum ini berlaku jika nun mati atau tanwin bertemu huruf-huruf tertentu. Hukum ini terdiri dari 4 jenis, yaitu izhar, idgam, iqlab, dan ikhfa.



Potongan ayat Surah Al-Baqarah ayat 145. Keterangan tajwid: Izhar halqi, Idgham, Ikhfa Haqiqi, Iqlab


*Izhar


Izhar terbagi menjadi dua bagian yaitu:


Izhar halqi


Jika nun mati atau tanwin bertemu/menghadap salah satu huruf izhar yaitu Ghain (غ), Ain (ع), Hamzah (ء), Haa (ه), kha (خ) dan Ha (ح) cara membacanya jelas, dan terang tidak diperbolehkan untuk mendengung.


Contoh

Sunting

وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ

Wa aamanahum min khouf.


*Izhar syafawi


Lihat hukum mim mati#Izhar syafawi.




*Idgham



Hukum bacaan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu:


Idgham bi ghunnah


Jika nun mati atau tanwin bertemu huruf huruf seperti: mim (م), nun (ن) wau (و), dan ya' (ي), ia harus dibaca dengan ditahan.


Contoh: فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ harus dibaca Fī ʿamadim mumaddadah.


Idgham bila ghunnah


Jika nun mati atau tanwin bertemu huruf-huruf seperti ra' (ر) dan lam (ل), maka ia dibaca tanpa ditahan.


Contoh: مَنْ لَمْ harus dibaca Mal lam


Pengecualian


Jika nun mati bertemu dengan keenam huruf idgam tersebut tetapi ditemukan dalam satu kata, seperti بُنْيَانٌ, اَدُّنْيَا, قِنْوَانٌ, dan صِنْوَانٌ, maka nun mati atau tanwin tersebut dibaca jelas.


Selain itu terdapat juga idgham mutamathilain, mutaqarribain dan mutajanisain.



*Iqlab



Hukum ini terjadi apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ba' (ب). Dalam bacaan ini, bacaan nun mati atau tanwin berubah menjadi bunyi mim.


Contoh:

لَيُنۢبَذَنَّ[2]


harus dibaca Layumbażanna


*Ikhfa


Ikhfa terbagi menjadi dua bagian yaitu:


Ikhfa' haqiqi


Jika nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf seperti ta'(ت), tsa' (ث), jim (ج), dal (د), żal (ذ), zai (ز), sin (س), syin (ش), sad (ص), dad (ض), tha (ط), zha (ظ), fa' (ﻑ), qaf (ق), dan kaf (ك), ia harus dibaca samar-samar (antara Izhar dan Idgam)


Contoh:

نَقْعًا فَوَسَطْنَ[3]


Ikhfa' syafawi


Lihat hukum mim mati#Ikhfa' Syafawi (ﺇﺧﻔﺎﺀ ﺷﻔﻮﻱ).



____

Cat :

Hukum nun mati dan Tanein dalam Ilmu Tajuid

  Hukum nun mati dan Tanein dalam Ilmu Tajuid 



Hukum nun mati (sukun) dan tanwin adalah salah satu tajwid yang terdapat dalam Al-Qur'an. Hukum ini berlaku jika nun mati atau tanwin bertemu huruf-huruf tertentu. Hukum ini terdiri dari 4 jenis, yaitu izhar, idgam, iqlab, dan ikhfa.

___

Cat :

Sabtu, 09 September 2023

Sayyeid Mostafa Hosaini sebaga qari terbaik dalam ajang MTQ Internasional 2023

 


Sayyeid Mostafa Hosaini sebaga qari terbaik dalam ajang MTQ Internasional 2023




Sayyeid Mostafa Hoseini terpilih sebagai qari terbaik dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional Ke-3 Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) tahun 2023. Menjadi pelantun ayat-ayat suci Al-Qur’an merupakan hal yang paling penting dalam kehidupannya. Tak pelak, ia pun rela menanggalkan statusnya sebagai tenaga kesehatan masyarakat demi terus melantunkan ayat-ayat suci.

“Melantunkan ayat al-Qur’an adalah hal paling penting bagi hidup saya. Saya tinggalkan pekerjaan saya demi melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an,” ujar pria asal Iran ini kepada NU Online setelah penutupan MTQ Nasional Ke-9 dan MTQ Internasional Ke-3 JQHNU di Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Jumat (8/9/2023).

Sebagai lulusan Kesehatan Masyarakat, ia sempat bekerja dalam bidang yang ia pelajari secara serius di kampusnya itu. Namun, undangan haflah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an tak terbendung sehingga membuatnya harus rela meninggalkan pekerjaannya itu.

“Namun, saya punya banyak jadwal haflah akhirnya saya tinggalkan pekerjaan saya. Tidak ada hal yang paling penting, tidak ada yang paling berharga ketika melihat orang-orang senang atas lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an saya,” katanya.
___
Cat :
https://nu.or.id/nasional/kisah-peserta-terbaik-mtq-internasional-jqhnu-2023-rela-tinggalkan-pekerjaannya-demi-jadi-qari-26Tdo

Selasa, 29 Agustus 2023

PERAN RASULULLOH DALAM PERKEMBANGAN KALIGRAFI ISLAM

 PERAN RASULULLOH DALAM PERKEMBANGAN KALIGRAFI ISLAM



Kaligrafi merupakan salah satu warisan seni dalam Islam yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dalam segi tsaqafah dan hadharah.


Kemajuan ini dapat dilihat dari model kaligrafi yang telah mengalami proses perubahan dari sejak awal munculnya hingga sekarang. Salah satu pengaruh kaligrafi dalam kemajuan peradaban Islam dibuktikan dengan banyaknya bangunan arsitektur Islam yang dihiasi dengan kaligrafi indah dan banyaknya literatur keilmuan Islam yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Lebih jauh lagi, ketika Islam datang dengan gerakannya dalam tulis menulis (khat), para sahabat mulai menulis mushafnya masing-masing (sebelum adanya jam’ul Qur’an oleh Utsman bin Affan), sebagian menuliskan hadits yang mereka dapatkan dari Rasulullah dalam setiap majlis. 


Hal ini merupakan perkembangan yang sangat pesat ketika itu, mengingat masyarakat Arab pada masa pra Islam masih awam terhadap dunia tulis menulis.

Menurut Dr. Mujahid Taufiq (2008: 22) semua kemajuan itu tidak luput dari peran Rasulullah SAW di dalamnya, baik dalam segi gerakan maupun estetikanya terhadap kaligrafi itu sendiri. 


Hal inilah yang kemudian membuat kaligrafi disebut dengan Al-Khat Al-Islami atau kaligrafi Islam hingga sekarang.

Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah untuk mengenalkan kaligrafi kepada umatnya adalah dengan menyadarkan umatnya akan pentingnya tulisan. 


Ada beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menyebutkan keutamaan dalam menulis, diantaranya tertulis dalam surah Al-‘Alaq: 3-5, Al-Baqaroh, 282, Al-Ankabut, 48, Al-Infithar, 11 dan lainnya. Bahkan dalam surah Al-‘Alaq Allah bersumpah dengan menggunakan kata qalam (pena) dan tulisan yang tergores darinya (surah Al-Alaq, ayat: 1).


Untuk mengenalkan umatnya terhadap dunia tulis menulis, Rasulullah membuat halaqoh di masjid yang ia bangun pasca hijrahnya ke Madinah untuk mengajarkan cara menulis. Untuk itu, beberapa sahabat secara khusus dipilih untuk mengajarkan cara menulis kepada umat muslim, salah satunya Abdullah bin Said dan Ubadah bin Shomit.


Gerakan lainnya yaitu dengan menjadikan tebusan tawanan perang yang mampu menulis untuk mengajarkannya kepada 10 orang Madinah (Dr. Mujahid Taufiq, 2008:22).

Ada perbedaan pendapat terkait peran Rasulullah dalam hal ini. Diantaranya mengatakan bahwa Rasulullah hanya berperan dalam menggerakan umatnya untuk menulis, bukan dalam seni kaligrafi (khat). 


Pemikiran ini berbeda dengan pendapat Muhammad Thahir yang mengatakan bahwa tulisan (al-kitabah), as-satr (Alfarobi, 2003:108) dan al-khat memiliki satu arti yang sama (Muhammad Thohir, 1939:7). 


Dalam beberapa literatur, istilah khat lebih sering digunakan untuk menunjukkan perkembangan peradaban Islam baik dalam hal tsaqafah maupun hadhoroh, melihat perubahan bentuk, jenis dan keindahan yang berkembang di setiap masanya. 


Sedangkan dalam kbbi, tulisan indah dengan pena lebih dikenal dengan sebutan kaligrafi, dan penulisnya disebut dengan kaligrafer (kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020).


Bukti yang menunjukkan peran Rasulullah dalam estetika kaligrafi dapat dilihat dari beberapa hadits, diantaranya hadits Muawiyyah yang tertulis dalam Musnad Firdaus nomor 8533. Diriwayatkan di dalamnya bahwa Rasulullah pernah mengajarkan sekretarisnya (kuttab), Muawiyyah bin Abi Sufyan tentang bentuk penulisan basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 394 ). 


Yaitu dengan meninggikan huruf ba’ agar tidak tercampur dengan nibroh sin hingga menimbulkan kesusahan dalam membaca (وانصب الْبَاء) dalam hadits ini juga diajarkan untuk memisahkan nibroh sin, yang artinya dalam penulisan ayat Al-Qur’an, nibroh sin harus terlihat jelas (وَفرق السِّين). 


Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan cara menulis mim yang benar, yaitu agar lingkaran dalam kepala mim terlihat, tidak tertutup oleh tinta (وَلَا تغور الْمِيم).

وقال لكاتبه معاوية رضي الله تعالى عنه ((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan dalam Munsad Firdaus nomor 1168 mengatakan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis mim dalam tulisan Ar-Rahman (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 296), yaitu dengan memanjangkan mim satu pena (فليمد الرَّحْمَن).

((إِذا كتب أحدكُم بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم فليمد الرَّحْمَن))

Dalam hadits Zaid bin Tsabit yang diriwayatkan dalam Musnad Firdaus nomor 1087 dijelaskan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis sin dalam basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 278), yaitu dengan memanjangkan huruf sin. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa maksud dari (فَبين السِّين) yaitu untuk menuliskan nibrah sin dengan jelas dan memisahkannya dari nibrah ba. Karena jika jumlah nibrahnya kurang atau sebaliknya, maka akan merubah makna.

((إِذا كتبت فَبين السِّين فِي بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم))

Dapat dilihat dari hadits pertama, bahwa Rasulullah juga mengajarkan sekretarisnya cara menggunakan pena dan tinta. Yaitu dengan memasukkan liiqoh (benang sejenis sutra) kedalam dawah (sebutan untuk tempat tinta) agar mata pena tidak bersentuhan langsung dengan dinding dawah ketika mengambil tinta, karena hal itu dapat menyebabkan mata pena rusak dan pecah (ألق الدواة). Adanya benang dalam dawah juga berguna untuk menjaga kebersihan dan keindahan dalam menulis, karena mata pena tidak mengambil tinta secara langsung karena terhalang oleh benang yang berfungsi untuk menyerap tinta. Cara ini merupakan metode baru yang diajarkan oleh Rasulullah, mengingat tulis menulis merupakan hal yang baru ketika itu. Dan metode sederhana ini masih dipakai oleh para kaligrafer hingga masa seterusnya.

Metode pemotongan pena juga diajarkan oleh Rasulullah, yaitu dengan memotong mata pena secara miring (وحرف الْقَلَم). Metode ini dapat dilihat dari hadits Mua’awiyah sebelumnya. Pemotongan pena merupakan hal paling mendasar dalam penulisan kaligrafi dan menjadi hal terpenting yang menentukan kualitas tulisan.   Dituliskan dalam buku Al-Khat Al-‘Araby wa Adabihi bahwa rahasia seorang kaligrafer terletak pada pemotongan penanya (Muhammad Thohir, 1939:426).

Dalam hadits Muawiyyah yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami secara langsung telah membuktikan bahwa Rasulullah memiliki peran besar dalam munculnya kaligrafi Islam. Karena kaligrafi sangat diutamakan untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam hadits ini Rasulullah berpesan untuk menuliskan ayat Al-Qur’an dengan sebaik-baik tulisan yang indah sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allah (وَحسن الله). Al-Kurdi menjelaskan lebih lanjut, bahwa perintah untuk memperindah tulisan dalam hadits ini bukan hanya untuk penulisan basmalah saja, akan tetapi ditujukan untuk semua tulisan (Muhammad Thohir, 1939:13).

((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Belum cukup sampai di situ, tetapi Rasulullah juga mengajarkan cara menghapus tulisan yang salah hingga tulisan tidak dicoret atau ditulis ulang seperti sebelumnya. Dalam hadits Ali diceritakan bahwa ketika penulisan perjanjian Hudaibiyah, Suhail, salah satu para pembesar Quraisy tidak setuju dengan tulisan “Muhammad Rasulullah” yang tertulis dalam surat perjanjian, karena Quraisy ketika itu tidak mempercayai kenabian Nabi Muhammad. Oleh karena itu, Suhail meminta untuk dihapuskan kalimat “Muhammad Rasulullah”. Ali yang semula menolak akhirnya menggantinya dengan kalimat “Muhammad bin Abdillah” atas perintah Rasulullah setelah Rasulullah menghapus kalimat sebelumnya “Muhammad Rasulullah” dengan air liurnya (Shohih Muslim, tanpa tahun:1410).

 ----

Referensi:

Al-Farobi, Ishaq bin Ibrahim bin Husain. 2003 Mu’jam Diwanil Adab, jilid.1 (Kairo: Darul Syu’ub Lil-Shofahah wa Thiba’ah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 5, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 1, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Jundi, Mujahid Taufiq. 2008. Tarikhul Kitabah Al-Arabiyah Wa Adawatiha, cet.1 (Kairo, tanpa penerbit)

Al-Kurdi, Muhammad Thohir Abdul Qodir. 1939 . Al-Khat Al’Araby wa Adaabihi. (Tanpa penerbit)

An-Nisaburi, Muslim bin Hujaj. Tanpa tahun. Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor binaqlil ‘Adl ‘Anil ‘Adl Ilaa Rasulullah SAW, jilid 3 (Beirut: Darul Ihya At-Turats Al-‘Araby)

kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020

Sumber :

http://hamidionline.net/peran-rasulullah-dalam-perkembangan-kaligrafi-islam/

Kaligrafi "KUN FAYAKUN" dan Sekilas Penjelasannya

Kaligrafi "KUN FAYAKUN" dan Sekilas Penjelasannya



Penjelasan :


Kun Fayakun (bahasa Arab: كُنْ فَيَكُونُ) adalah sebuah ungkapan dan kalimat yang disebutkan di beberapa ayat Alquran. Di antaranya pada ayat 117 Surah Al-Baqarahdimuat: إِذا قَضى‏ أَمْراً فَإِنَّما يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ"Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia".


Sejumlah besar mufasir Ahlusunahberpendapat bahwa, Allah swt dalam menciptakan setiap entitas benar-benar menggunakan kata "kun" (jadilah), sementara mufasir Syiah sesuai dengan riwayat-riwayat yang dinukil dari para Imam as terkait tafsiran kalimat tersebut, mengatakan bahwa "kun fayakun" adalah sebuah penjelasan berupa permisalan (tamtsil) tentang hakikat ini bahwa, iradah dan kehendak Allah untuk mewujudkan sesuatu sama dengan mewujudkan sesuatu itu sendiri. Oleh karenanya, Allah dalam mewujudkan entitas-entitas pada hakikatnya tidak menggunakan lafal "kun".Beberapa orang arif mengatakan bahwa ahli surga dan orang-orang arif memiliki kedudukan "kun fayakun" atas izin Allah.

---

Cat :

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Kaligrafi "RAMADHAN"

 Kaligrafi "RAMADHAN"



Kata Ramadan berasal dari akar kata bahasa Arab ramiḍa atau ar-ramaḍ, yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan. Bangsa Babilonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus. Bulan kesembilan, yaitu bulan Ramadan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat.


Namun, setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis Matahari, bulan Ramadan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami 'panas'nya Ramadan secara kiasan.


Kiasan ini merujuk pada hari-hari dimana orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan orang yang berpuasa tak lagi berdosa. Bulan Ramadan diawali dengan penentuan bulan sabit sebagai pertanda bulan baru.


Keistimewaan bulan Ramadan bagi pemeluk agama Islam tergambar pada Alquran pada surah Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa."- (Al-Baqarah 2: 183)

---

Cat :


PopCash.net

Kaligrafi "Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir"

 Kaligrafi "Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir"



Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ada empat ucapan yang paling dicintai Allah SWT: Subhanallah (Mahasuci Allah), Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allah), Laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah), dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).

----

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Kaligrafi, "SYUKRON KATSIRAN" dan Artinya

 Kaligrafi, "SYUKRON KATSIRAN" dan Artinya 



Kata syukron sebenarnya berasal dari kata syakaro – yaskuru – syukron. Selain itu, kata syukron ini sering disambungkan atau disandingkan juga dengan kata katsiran yang memiliki arti “banyak.” Arti dari tulisan Arab syukron katsiron yaitu “Terimakasih Banyak.”

___

Cat :


PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Sabtu, 26 Agustus 2023

Pengertian Harakat dalam abjad Arab

 Pengertian Harakat dalam abjad Arab 



Harakat (bahasa Arab: حركات, translit. harakaat), atau tashkīl, adalah tanda baca atau diakritik yang ditempatkan pada huruf Arab untuk memperjelas gerakan dan pengucapan huruf tersebut. 


Huruf-huruf dalam abjad Arab biasa hanya melambangkan konsonan tanpa vokal, sehingga harakat digunakan sebagai penjelas pengucapannya. Harakat yang digunakan adalah fathah (dalam bahasa Arab klasik melambangkan vokal -a yang mengikuti konsonan yang ditandainya), kasrah (-i), dhammah (-u), dan sukun (menandai konsonan tanpa vokal). 


Selain itu terdapat harakat tanwin (untuk menandai bahwa bunyi -n ditambahkan setelah vokal sehingga menjadi -an, -in, atau -un), serta modifikasi untuk menunjukkan vokal yang dibaca panjang.


Harakat dipakai untuk mempermudah cara membaca huruf Arab bagi orang awam, pemula atau pelajar dan biasanya dituliskan pada buku-buku pendidikan, buku anak-anak, dan kitab suci al-Quran, walaupun dalam penulisan sehari-hari tidak menggunakan harakat, karena pada umumnya orang Arab sudah paham dan mengerti akan tulisan yang mereka baca, tetapi kadang juga digunakan sebagai penekanan dari suatu kata terutama pada kata-kata yang kurang umum digunakan agar menghindari kesalahaan pembacaan

____

Cat :

PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian Wujh wa an-Nazha'ir dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian Wujh wa an-Nazha'ir dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Wujh wa an-Nazha'ir "


*Pengertian Wujh wa an-Nazha'ir al-Qur'an


Wujh wa an-Nazha'ir adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas kata-kata dalam Al-Qur'an yang memiliki banyak arti dan makna yang dimaksud dalam suatu ayat. Wujh adalah lafal yang digunakan untuk beberapa makna, sedangkan an-Nazha'ir adalah lafal-lafal yang berhampiran maknanya.

___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian I'jaz al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian I'jaz al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "I'jaz al-Qur'an "


*Pengertian I'jaz al-Qur'an


I'jaz al-Qur'an adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas mengenai kekuatan dari susunan lafal dan kandungan Al-Qur'an, hingga dapat mengalahkan ahli-ahli bahasa Arab dan ahli-ahli lain.

___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian Naskh ( نسخ ) al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian Naskh ( نسخ )  al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Naskh ( نسخ ) "


*Pengertian Naskh ( نسخ )  al-Qur'an


Naskh ( نسخ ) adalah kata dalam bahasa Arab yang biasanya diterjemahkan sebagai "pembatalan". Dalam penafsiran hukum Islam (atau tafsir), naskh adalah teori yang dikembangkan untuk menyelesaikan putusan-putusan wahyu Islam yang tampaknya kontradiktif dengan menggantikan atau membatalkan wahyu sebelumnya. 


Dalam bentuk naskh dan "klasik"yang diakui secara luas, peraturan/hukum Islam (hukum) dibatalkan demi yang lain, tetapi teks yang menjadi dasar hukum tidak dihilangkan


Beberapa contoh peraturan Islam berdasarkan naskh termasuk larangan konsumsi alkohol secara bertahap (semula alkohol tidak dilarang tetapi umat Islam diberi tahu bahwa keburukan dalam meminum alkohol melebihi manfaatnya), dan perubahan arah (kiblat) yang harus dihadapi ketika shalat (awalnya Muslim menghadap ke Yerusalem, tetapi diubah menjadi menghadap ke Kabah di Mekah)]Teks atau putusan yang telah dicabut disebut mansukh; sebuah teks atau putusan yang membatalkan dikenal sebagai nasikh.[


Beberapa ayat Al-Quran menyatakan bahwa beberapa wahyu telah dibatalkan dan digantikan oleh wahyu kemudian, dan narasi dari sahabat-sahabat nabi Muhammad menyebutkan ayat-ayat atau aturan agama yang dibatalkan. Prinsip pencabutan ayat yang lebih tua dengan ayat baru dalam Al-Quran, atau dalam Hadits adalah prinsip yang diterima dari keempat maḏāhib Sunni atau mazhab fiqih (yurisprudensi), dan merupakan prinsip yang mapan dalam Syariah paling tidak pada abad ke-9,](meskipun sejak abad ke-19, Moderniseme Islam dan Islamisme menentang konsep naskh, mempertahankan keabsahan absolut dari Al-Quran). Namun, dengan sedikit pengecualian, wahyu Islam tidak menyatakan ayat atau hadis Quran mana yang telah dibatalkan, dan para ahli tafsir dan ahli hukum Islam tidak sepakat tentang mana dan berapa banyak hadis dan ayat Al-Quran yang diakui sebagai dibatalkan, dengan perkiraan bervariasi dari kurang dari sepuluh hingga lebih dari 500.


Masalah ketidaksepakatan lainnya termasuk apakah Quran (teks agama utama Islam) dapat dicabut oleh Sunnah (tubuh kebiasaan sosial dan hukum tradisional dan praktik komunitas Islam), atau sebaliknya - ketidaksepakatan antara Shafi'i dan sekolah-sekolah fikih Hanafi; dan apakah ayat-ayat Al-Qur'an dapat dicabut sama sekali, alih-alih ditafsirkan ulang dan didefinisikan secara lebih sempit - suatu pendekatan yang disukai oleh sebagian kecil ulama.

___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian Tanasubi Ayat al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian Tanasubi Ayat al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Tanasubi Ayat al-Qur'an"


*Pengertian Tanasubi Ayat al-Qur'an


Tanasubi Ayat al-Qur'an adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas penyesuaian atau hubungan antara satu ayat Al-Qur'an dengan ayat lain, baik yang ada di depannya atau dibelakangnya. Ilmu ini bersifat itjihad, bukan tauqif.

___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Jumat, 25 Agustus 2023

Pengertian Qasas al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian Qasas al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Qasas al-Qur'an"


*Pengertian Qasas al-Qur'an


Qasas al-Qur'an adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas tentang kisah-kisah umat-umat dan nabi-nabi terdahulu serta peristiwa-peristiwa yang terjadi semasa Al-Qur'an diturunkan. 


Faedah ilmu ini diantaranya: menjelaskan dasar-dasar dakwah yang disampaikan para nabi, sebagai penguat hati seorang muslim, dan menarik perhatian pendengarnya.

___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian Gharib al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian Gharib al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Gharib al-Qur'an"


*Pengertian Gharib al-Qur'an


Gharib al-Qur'an ilmu Al-Qur'an yang membahas mengenai arti kata dari kata-kata yang ganjil dalam Al-Qur'an yang tidak biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari.


___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian Auqat wa Mawathin an-Nuzul al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian Auqat wa Mawathin an-Nuzul al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Auqat wa Mawathin an-Nuzul Qur'an,".


*Pengertian Auqat wa Mawathin an-Nuzul al-Qur'an


Auqat wa Mawathin an-Nuzul adalah ilmu Al-Qur'an yang mempelajari waktu dan tempat turunnya ayat Al-Qur'an. 


Auqat wa Mawathin an-Nuzul berasal dari dua kata, yaitu Auqat yang artinya "waktu-waktu" dan Mawathin artinya "tempat-tempat". 


Dalam pembahasannya, bidang ilmu dibagi menjadi beberapa bagian, di antaranya: tertib masa turun ayat, tertib tempat turun ayat, tertib mahdu' yang dibicarakan ayat yang diturunkan, tertib orang yang dihadapi nabi Muhammad saat ayat diturunkan.



___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian Jidal al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian Jidal al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Jidal al-Qur'an,".


*Pengertian Jidal al-Qur'an


Jidal al-Qur'an adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas tentang bantahan Al-Qur'an terhadap orang yang mengingkari seruan dan keterangan-keterangannya.



___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian Amsal al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian Amsal al-Qur'an dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Amsal al-Qur'an,".


*Pengertian Amsal al-Qur'an


Amsal al-Qur'an adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas perumpamaan-perumpamaan yang terdapat dalam Al-Qur'an dengan mensyarah ayat-ayat perumpamaan yang ada di dalamnya.



___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian Rasm Al-Qur’an dalam Ilmu Qur'an

 Pengertian Rasm Al-Qur’an dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Rasm Al-Qur’an,".


*Pengertian Rasm Al-Qur’an


Rasm Al-Qur’an atau adalah ilmu yang mempelajari tentang penulisan Mushaf Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakan.


 Rasimul Qur’an dikenal juga dengan sebutan Rasm Al-Utsmani, Khalifah Usman bin Affan memerintahkan untuk membuat sebuah mushaf Al-Imam, dan membakar semua mushaf selain mushaf Al-Imam ini karena pada zaman Usman bin Affan kekuasaaan Islam telah tersebar meliputi daerah-daerah selain Arab yang memiliki sosio-kultur berbeda. 

 

Hal ini menyebabkan percampuran kultur antar daerah. Sehingga ditakutkan budaya arab murni termasuk di dalamnya lahjah dan cara bacaan menjadi rusak atau bahkan hilang tergilas budaya dari daerah lainnya. Implikasi yang paling ditakutkan adalah rusaknya budaya oral arab akan menyebabkan banyak perbedaan dalam membaca Al-Qur’an.



___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net

Pengertian Muḥkam dan Mutasyābih dalam Ilmu Qur'an


Pengertian Muḥkam dan Mutasyābih dalam Ilmu Qur'an




*Ilmu Qur'an


Ilmu al-Qur'an atau 'Ulumul Qur'an adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur'an.


Sebagian pokok-pokok pembahasan ilmu al-Qur'an dapat ditinjau dari macam segi. Salah satunya adalah "Muḥkam dan Mutasyābih,".


*Pengertian Muḥkam dan Mutasyābih


Muḥkam dan Mutasyābih (bahasa Arab: محکم و متشابه) dalam tafsir Al-Qur'an adalah pembagian kategori ayat berdasarkan status kejelasannya (muhkam) atau ketidakjelasannya (mutasyābih).


Pengertian atas kedua istilah itu masih kontroversial. Beberapa mufassir menganggap perbedaannya adalah apakah ayat-ayat tersebut memerlukan interpretasi atau refleksi lebih lanjut atau tidak jika hendak dibaca. 


Pada umumnya, orang memaknai ayat muhkam sebagai ayat-ayat dengan satu makna dan mutasyabih sebagai ayat dengan lebih dari satu makna (dan yang maknanya paling tepat perlu ditakwil).


Contoh ayat mutasyabih adalah penggambaran antropomorfik Tuhan (Allah), misalnya "tangan", "wajah", atau "di atas Arasy". Pertanyaan apakah istilah-istilah ini harus dimaknai secara harfiah atau majas telah diperdebatkan secara luas di abad-abad awal Islam, dan terus diperdebatkan.


*Ayat Al-Qur'an


Ayat Al-Qur'an berikut membahas pembagian ayat muhkam dan mutasyabih:[2]


Dialah yang menurunkan Kitab (Alquran) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok Kitab (Alquran) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Alquran), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.



*Komentar


Tafsir at-Tustari meriwayatkan perkataan yang dinisbahkan kepada Ali:


[Mereka yang mendalam ilmunya] adalah orang yang dilindungi oleh ilmu-ilmunya dari kesesatan mengikuti hawa nafsunya atau dengan pendapat yang ditetapkan tanpa menyadari adanya perkara yang gaib.


___

Cat :







PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net PopCash.net